Kamis, 22 Desember 2011

Operant Conditioning


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pembahasan dan pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku. Para ahli psikologi penganut faham ini diantaranya, adalah Burrhus Frederick Skinner dengan Pengkondisian operan (Operan Conditioning)-nya.
Beberapa perilaku manusia jelas didorong oleh rangsangan tertentu. Sepertihalnya anjing Pavlov, kita mengeluarkan air liur ketika kita lapar san melihat makanan yangmengundang selera. Kita juga memberikan kredibilitas pada penekanan awal Thorndike pada perilaku fleksible ketika kita mempelajari sesuatu – seperti bagaimana naik sepeda – dengan begitu sehingga otak menanggapinya dengan refleks. Namun , B.F. Skinner berpendapat bahwa perilaku refleks hanya sebagaian kecil dari tindakan. Skinner mengusulkan kelompok perilaku lain, yang dia namai perilaku operan ( operant behavior) karena perilaku tersebut berlangsung pada lingkungan dalam ketiadaan nyata satu pun rangsangan tanpa dikondisikan, seperti makanan.
            Karya Skinner berpusat pada hubungan antara perilaku dan konsekuensinya. Misalnya, apabia perilaku seseorang langsung diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan, orang itu akan lebih sering terlibat dalam perilaku tersebut. Penggunaan konsekuensi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku sering disebut pengkondisian operan (operant conditioning). Maka dari itu untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa itu teori pengkondisian operan (operant conditioning) akan di bahas dalam makalah ini. Pengkondisian operan atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan meliputi penguatan positif atau negatif yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilangkan sesuai dengan keinginan. Penguatan disini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu penguatan positif dan negatif.

B.     Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang dapat dirumuskan dalam pembuatan makalah ini antara lain untuk mengetahui:
1.      Biografi Tokoh (Burrhus Frederic Skinner)
2.      Latar belakang teori belajar pengkondisian operan
3.      Kajian teoritis tentang teori belajar pengkondisian operan
4.      Penerapan teori belajar pengkondisian operan dalam pembelajaran
























BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A.    Biografi Tokoh (Burrhus Frederic Skinner)
Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) adalah seorang psikolog Amerika Serikat terkenal dari aliran behaviorisme. Inti pemikiran Skinner adalah setiap manusia bergerak karena mendapat rangsangan dari lingkungannya. Sistem tersebut dinamakan "cara kerja yang menentukan" (pengkondisian operan). Setiap makhluk hidup pasti selalu berada dalam proses bersinggungan dengan lingkungannya. Di dalam proses itu, makhluk hidup menerima rangsangan atau stimulan tertentu yang membuatnya bertindak sesuatu. Rangsangan itu disebut stimulan yang menggugah. Stimulan tertentu menyebabkan manusia melakukan tindakan-tindakan tertentu dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu.
Skinner lahir pada tanggal 20 Maret 1904 di kota Susquehanna, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan dalam bidang Bahasa Inggris dari Hamilton College. Ayahnya adalah seorang pengacara, dan ibunya adalah seoarang ibu rumah tangga. Skinner mendapat gelar BA-nya dalam sastra Bahasa Inggris tahun 1926 dari Presbyterian-founded Humilton College. Pada tahun 1928, ia melamar masuk program pasca sarjana psikologi Universitas Harvard. Ia memperoleh MA pada tahun 1930 dan Ph.D pada tahun 1931. Pada tahun 1945, dia menjadi kepala departemen psikologi Universitas Indiana. Kemudian 3 tahun kemudian, dia diundang untuk datang lagi ke Universitas Harvard. Di universitas tersebut dia menghabiskan sisa karirnya. Ia paling sering melakukan penelitiannya dengan subjek tikus dan burung dara, karena ia menganggap prinsip yang sama dapat diaplikasikan kepada manusia. Skinner sudah menulis berbagai buku. Ia menjadi salah satu penulis psikologi terbaik. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Walden II. Pada tanggal 18 Agustus 1980, Skinner meninggal dunia karena Leukemia. Seperti para penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism pada tahun 1938. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning.
B.     Latar Belakang Teori Belajar Pengkondisian Operan
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat  pada pelaksanaan penelitian. Istilah-istilah seperti cues (pengisyratan), purposive behavior (tingkah laku purposive) dan drive stimuli (stimulus dorongan) dikemukakan untuk menunjukkan daya suatu stimulus untuk memunculkan atau memicu suatu respon tertentu.
Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan.
C.    Ekserimen Tentang Teori Belajar Pengkondisian Operan
Pengkondisian ini pada awalnya diselidiki oleh E. L. Thorndike. Skinner berusaha menegakkan tingkah laku lewat studi mengenai belajar secara operan. Operan adalah memancarkan, maksudnya organisme melakukan sesuatu tanpa perlu adanya stimulus pendorong. Operan dapat dipelajari bebas dari kondisi-kondisi perangsang yang membangkitkan. Organisme selalu dalam proses “operating” dalam lingkungannya. Organisme melakukan apa yang ingin dilakukan. Selama “operating”, organisme akan bertemu dengan stimulus-stimulus, yang disebut reinforcing stimulus (stimulus penguat).
Stimulus-stimulus tersebut mempunyai pengaruh dalam menguatkan tingkah laku yang muncul sebelum reinforcer. Jadi yang dimaksud dengan operant conditioning adalah sebuah tingkah laku diikuti dengan sebuah konsekuensi, dan konsekuensi-konsekuensi tersebut dapat merubah kecenderungan organisme yang mungkin akan mengulang tingkah laku tersebut di masa datang.
Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Menurut Skinner unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1.      Penguatan Positif
Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
2.      Penguatan Negatif
Penguatan negatif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Pengkondisian operan seperti yang telah dijelaskan di atas berhubungan dengan perilaku operan. Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas. Hal ini berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: Anak kecil yang tersenyum mendapat permen dari orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tertentu. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya.
Selain ada penguatan (reinforcement), juga dada hukuman (punishment) dalam teori ini. Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Penghukuman (punishment) tidak boleh disamakan dengan penguatan negatif. Penguatan negatif cenderung menghindarkan seseorang dari stimuli yang berkebalikan sementara penghukuman malah menyajikan stimulus yang berkebalikan. Meskipun penghukuman tidak memperkuat respon namun penghukuman juga tidak melemahkannya.
Berikut adalah perbandingan mengenai perbedaan penguatan positif, penguatan negatif, dan hukuman:

PERILAKU
KONSEKUENSI
PERILAKU KE DEPAN
PENGUATAN POSITIF
Murid mengajukan pertanyaan yang bagus
Guru menguji murid
Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan
PENGUATAN NEGATIF
Murid menyerahkan PR tepat waktu
Guru berhenti menegur murid
Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
HUKUMAN
Murid menyela guru
Guru mengajar murid langsung
Murid berhenti menyela guru

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) yang berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris yang terkenal melalui pendekatan model instruksi langsung (directed instruction). Skinner meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses pengkondisian operan. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar secara terarah dan dikontrol oleh guru melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise).
Dalam merumuskan teorinya, Skinner memuat eksperimen sebagai berikut:
Dalam laboratorium, Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan ke dalam sebuah kotak yang disebut dengan “Skinner box”. Kotak tersebut telah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan laintai yang dapat dialiri listrik.
Tikus yang berada dalam kotak tersebut tidak bisa keluar. Karena dorongan lapar(hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana kemari untuk keluar box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Setelah itu, tikus tersebut akan mulai sering menekan balok itu sehingga setiap saat ia akan memperoleh makanan. Imbalan berupa makan itu telah mengkondisikan perilaku tikus tersebut yang mempersering menekan balok dan mengurangi semua perilaku lain, seperti berputar-putar mengelilingi kotak tersebut. Pada waktu-waktu selanjutnya, pelaku eksperimen dapat mengembangkan eksperimennya.  Tempat makanan dapat dibentuk sedemikian rupa sehingga membutuhkan beberapa kali menekan tombol untuk mendapatkan makanan, namun tekanan lain tidak menghasilkan makanan. Pada kasus-kasus tersebut, perilaku tikus akan dicatat. Eksperimen pada tikus membuktikan bahwa suatu tingkah laku yang diikuti oleh stimulus penguat akan meningkatkan kemungkinan munculnya kembali tingkah laku tersebut di masa depan.
Dari eksperimen di atas, Skinner menyatakan bahwa  manajemen kelas adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behaviour modification) antara lain dengan proses penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberikan imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Penghargaan dapat berupa ganjaran atau penguatan. Ganjaran merupakan proses yang sifatnya menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif, sedangkan penguatan merupakan sesuatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan terjadinya suatu respon dan lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur.


D.                Aplikasi Teori Belajar Pengkondisian Operan Dalam Pebelajaran
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2.      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
3.      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4.      Materi pelajaran digunakan sistem modul.
5.      Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
6.      Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7.      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
8.      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
9.      Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
10.  Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
11.  Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
12.  Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
13.  Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
14.  Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
15.  Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda.
Ada lima strategi pengkondisian operan untuk mengembangkan perilaku yang diharapkan dari anak-anak:
1.      Memilih penguatan yang efektif.
Untuk mendapatkan penguatan yang efektif bagi setiap peserta didiknya, guru harus mengetahui apa yang dapat memotivasi peserta didiknya. Untuk menghindari kebosanan terhadap penguatan yang itu-itu saja, perlu dicari strategi penguatan-penguatan lain mungkin dengan cara bertanya pada peserta didiknya secara langsung tentang apa yang dia sukai namun sulit untuk ia dapatkan.
2.      Membuat penguat kontingen dan tepat waktu.
Agar pemberian penguat bekerja secara efektif, guru hanya perlu memberikan penguat setelah peserta didiknya melakukan perilaku yang diharapkan. Hal itu akan membantu peserta didik untuk melihat dengan jelas hubungan kontingensi anatara hadiah yang diperolehnya dengan perilaku yang telah ia lakukan.
3.      Menjadwal Penguatan
Penguatan tidak harus selalu dilakukan secara berkesinambungan. Bila penguatan selalu dilakukan dengan berkesinambungan, peserta didik akan belajar menyesuaikan perilakunya dengan cepat. Namun setelah penguatan dihentikan, peserta didik akan sulit menyesuaikan perilakunya. Jadi, pemberian penguatan hanya harus dilakukan secara terjadwal. Maksudnya adalah penguatan tidak dilakukan setiap kali peserta didik melakukan hal yang diharapkan, melainkan setelah peserta didik beberapa kali melakukan hal yang diharapakan (misalnya setiap setelah empat kali melakukan yang diharapkan, guru baru akan memberikan pujian).
4.      Menggunakan penguatan negatif yang efektif.
Guru yang mengatakan pada siswanya, “Andi, duduklah di tempatmu dan kerjakan tugasmu sekarang juga.” Guru tersebut sedang membuat penguatan negatif. Hal ini sangat tidak nyaman bagi Andi, karena ia mengerjakan tugas sendirian sementara teman-temannya asyik bermain. Hal ini akan mudah dihadapinya bila ia cepat menyelesaikan tugasnya. Namun, dalam penggunaan penguatan negatif ini juga ada efek negatifnya. Kadang bila guru menggunakan penguatan negatif, peserta didik akan marah. Maka guru perlu berhati-hati menggunakan penguatan negatif ini.
5.      Menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.
Bila seorang guru ingin menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan dari seorang peserta didiknya, Paul Alberto dan Anne Troutman (1995) merekomendasikan peserta didik suatu model bagaimana berperilaku di luar kontrol untuk menangani situasi yang penuh stres. Hukuman hanya akan membangkitkan rasa marah dan dendam dalam diri peserta didik bukan membangkitkan perasaan positif. Selain itu, hukuman juga hanya mengajarkan kepada peserta didik untuk menghindari sesuatu dan bukan untuk membuat sesuatu itu menjadi lebih baik. Sebagai contoh guru mengatakan “Jangan mengganggu temanmu seperti itu! Itu tidak baik.” Nah, kata-kata seperti itu hanya akan membuat seorang anak menghindari sesuatu, bukan untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik. Anak-anak yang telah dihukum biasanya akan mengalami kecemasan dan ketakutan serta gejolak emosi yang kuat. Maka sebaiknya guru menambahkan kata-kata, “Mengapa kamu tidak mencoba untuk bermain ataupun belajar bersama temanmu itu?”
Meskipun contoh penguatan tersebut dikenakan pada mahasiswa, hasilnya tidak akan berbeda jika dikenakan pada anak sekolah dasar. Contoh tersebut selaras dengan pendapat Skinner, bahwa penguatan akan berbekas pada diri peserta didik. Mereka yang mendapat pujian setelah berhasil menyelesaikan tugas atau dapat menjawab pertanyaan biasanya akan berusaha memenuhi tugas berikutnya dengan penuh semangat. Penguatan yang berbentuk hadiah atau pujian akan memotivasi anak untuk rajin belajar dan untuk mempertahankan prestasi yang diraihnya.
Oleh karena penguatan akan berbekas kepada peserta didik, sedangkan hasil penguatan yang diharapkan adalah positif, maka penguatan yang diberikan harus teralamatkan pada respon anak didik yang benar. Guru hendaknya jangan memberikan penguatan atas respon peserta didik jika respon tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan.







BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah di paparkan dalam makalah ini maka dapaat di tarik beberapa kesimpulan di antaranya :
1.      Burrhus Frederic Skinner merupakan salah satu tokoh dari aliran pembeajaran behavioristik yang terkenal dengan teori belajarnya, yakni teori belajar pengkondisian operan.
2.      Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori Stimulus and Response (S-R).
3.      Banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
4.      Perilaku dikontrol melalui proses pengkondisian operan. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar secara terarah dan dikontrol oleh guru melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise).
5.      Seperti halnya dengan teori-teori belajar yang lainnya, teori belajar pengkondisian operan juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.
6.      Oleh karena penguatan akan berbekas kepada peserta didik, sedangkan hasil penguatan yang diharapkan adalah positif, maka penguatan yang diberikan harus teralamatkan pada respon anak didik yang benar. Guru hendaknya jangan memberikan penguatan atas respon peserta didik jika respon tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan.





B.     SARAN
Sebagai calon guru Sekolah Dasar mahasiswa hendaknya perlu memahami pentingnya pemahaman tentang teori belajar pengkondisian operan dan penerapannya. Setiap mahasiswa di harapkan dapat memahami tentang teori belajar pengkondisian operan (operan conditioning)   sehingga di harapkan mampu untuk dapat mengaplikasikannya kelak menjadi guru SD.
Pemahaman ini dapat menunjang kreatifitas pendidik dalam menyampaikan materi agar peserta didik dapat memahami materi yang di berikan. Sehingga dapat juga menunjang keberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.






















DAFTAR PUSTAKA
Fidelis E. Warawu, dkk. 2004. Jurnal Provitae. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara dan Yayasan Obor Indonesia.
Joko Winarto. 2011. Teori B.F. Skinner. http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/13/teori-bf-skinner/. Diakses pada 11 Oktober 2011 pukul 20:59.
Asih Lestari. 2010. Berpikir dan Belajar. http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/07/berpikir-dan-belajar/. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2011 pukul 21:25.
Anonim. Burhuss Frederic Skinner. http://www.psychologymania.com/2010/03/burrhus-frederick-skinner-tokoh.html. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2011 pukul 21:01.
Robert E. Slavin. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktek. Jakarta : PT Indeks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar